HAM si Biang Keladi…???

Oleh Noviandy HusniHuman Right

Hari itu aku membaca sebuah berita pada salah satu surat kabar lokal yang terdapat di Aceh. Ya… karena fokus ku selama ini cenderung pada isu-isu sosial yang terjadi ditengah masyarakat. Kolom berita yang menjadi perhatian ku juga terfokus pada isu sosial. Walaupun pada dasarnya sosial budaya yang bangun ditengah masyarakat juga turut dipengaruhi perpolitikan, tapi memang aku sedikit apatis dalam melihat berita politik di media massa…

“Siswa di Hukum Scot Jump, karena tidak membawa Surah Yasin” ini judul berita yang terdapat pada salah satu kolom surat kabar tersebut. Spontan saja aku membaca dengan suara nyaring, dengan maksud memperdengarkan dengan teman ngopiku (salah satu cara membuka celah diskusi ala warung kopi). Ternyata cara ini manjur, spontan juga teman ku menanggapi dengan cara mendukung pemberitaan itu. ‘iyalah, kalo bisa disuruh push up sekalian, anak sekarang kalo gak digituin gak ada yang mau patuh peraturan’ (Dalam hati aku pun berguman, klop… umpan pancingan pun disambar, tinggal tarik-ulur-tarik-ulur… di akhiri dengan finishing. Walapun nanti ikannya akan kita realise kembali ke alam bebas.)

Guru tidak ada harganya lagi saat ini, di jewer sedikit—siswa langsung melapor ke orang tua—orang tua pun selalu mengikuti kehendak anaknya—alhasil sang guru pun dilaporkan ke polisi. Apa yang terjadi setelah itu…?? Guru diperiksa dengan tuduhan penganiayaan. Putusan palu pengadilan pun di hempaskan, tidak kurang dari dua tahun kurungan penjara pun harus dijalani.

Di luar sana banyak orang membicarakan Hak Asasi Manusia (HAM). Ketika polisi bertindak, tak sedikit orang yang menyalah HAM. Ketika orang tua melaporkan guru ke kantor Polisi, juga HAM yang disalahkan. Ketika ada anak yang nakal di sekolah, juga HAM yang dijadikan kambing hitamnya. Bahkan ketika siswa-siswi di sekolah tidak lagi menghormati para gurunya, juga HAM yang dituduhkan. Aduh sialnya si HAM itu…? Terbuat dari apakah HAM itu, hingga nasibnya se-sial itu..?

Saya jadi ingat dengan presentasi yang pernah saya lakukan di sebuah pelatihan beberapa tahun lalu. Ya.. pelatihan yang dihadiri perwakilan 20 lembaga pendidikan Islam tradisional di Aceh. Aku mengisi materi bersama dengan seorang senior dari Bandung, tentang HAM. 10 menit proses materi berjalan, seluruh peserta berontak menuduh HAM sebagai biang keladi hancurnya bangsa, yang nota bene-nya adalah kami sebagai pematerinya. Tuduhan terus berlangsung hingga 30 menit, dan kami memfasilitasi tuduhan-tuduhan itu. Jika boleh kami sampaikan tuduhan-tuduhan itu diantaranya:

  1. Dulu di Aceh semua anak-anak setelah shalat maghib, mengaji dan belajar. Sejak ada HAM, itu semua di tinggalkan.
  2. Dulu di Aceh ini tidak ada anak Punk, sekarang sejak ada HAM anak Punk banyak sekali. (anak-anak yang berambut jingkrak yang kebanyakan mereka hidup di jalanan)
  3. Dulu anak-anak Aceh sangat patuh dengan guru dan orang tuanya, sekarang sejak ada HAM, anak-anak di Aceh tidak punya adab lagi.
  4. Dulu semua anak-anak Aceh bisa mengaji, sekarang dengan adanya HAM anak-anak Aceh banyak yang tidak bisa mengaji
  5. Dulu anak-anak Aceh ta’at-ta’at dalam beribadah, dengan adanya HAM, ibadah anak-anak kita kapan mereka suka saja
  6. Dulu anak-anak Aceh tidak ada yang pacaran, semenjak ada HAM, pergaulan anak-anak kita hancur berantakan
  7. Dan lain-lain…

Masih banyak lagi, hanya itu yang masih terngiang di ingatan ku. Kami berdua sebagai pemateri bagai diadili di Sidang Rabbul Jalal. Se-akan kami adalah penyebar isu kesesatan dan penghancur tatanan kehidupan di Aceh. Seakan kami-lah HAM itu, dan HAM itulah yang bersalah, yang lain tidak ada yang bersalah.

Ditengah kegalauan atau desakan apapun—Fasilitator harus tetap tenang dan tetap harus tetap bisa berfikir jernih dalam meilihat persoalan (Kode etik fasilitator). Setelah 30 menit berlalu, tuduhan-tuduhan itu pun sudah terfasilitasi dan tercatat dengan lengkap arah dan tujuannya. Alhamdulilah kala itu, masih dengan niat untuk tidak membela diri, tentunya kami harus menyampai sesuatu.

Sebelum saya menanggapi apa yang telah para ustazd sampaikan, saya akan bertanya satu pertanyaan: Siapa diantara ustazd-ustazd disini yang memiliki HP (hand phone) di bawah harga satu juta???? Pertanyaan pertama ini hanya ditanggapi oleh satu orang ustazd saja. Pertanyaan yang sama saya ulangi (mungkin ada yang tidak mendengar), tetap hanya satu orang ustazd saja yang menanggapi. Ini mengindikasikan, keseluruhan ustazd yang hadir di sini memiliki hand phone di atas harga satu juta kecuali satu orang.

Pertanyaan kedua dilontarkan oleh rekan senior saya. Pertanyaannya sangat ringan, bisa jadi muatan tidak berbeda dengan yang saya tanyakan. ‘Siapa di antara para ustazd yang tidak memiliki televisi di rumah…? Para ustazd yang hadir disana menjawab serentak: di pesantren kami tidak ada televisi. Mungkin ada kesalahpamahaman dalam memahami pertanyaan, pertanyaan diulangi ‘Siapa diantara para ustazd yang tidak memiliki televisi di rumah bukan di pesantren…?

Dalam pertanyaan kedua ini hanya satu orang yang menanggapi, orang yang sama yang menanggapi pertanyaan pertama dari saya. Pertanyaan tetap diulangi, dengan tujuan agar yang tidak mendengar dapat mendengarkan pertanyaan ulang, dalam pertanyaan kedua yang kedua kalinya, tetap hanya satu orang yang menanggapinya. Hal ini mengindikasikan, keseluruhan ustazd yang hadir pada pelatihan ini memiliki televisi, kecuali satu orang ustazd saja.

Ternyata proses tanya-bertanya singkat ini menghabiskan waktu sampai 15 menit. Sehingga para peserta merasa bosan dan menagih jawaban klarifikasi dari kami. Mereka menanggapi proses ini, untuk apa bertanya tentang harta kami (hand phone, televisi) ini tidak penting. Tolong tanggapi apa yang telah kami sampaikan tadi.

Bagi fasilitator, ini merupakan kode dimana para peserta merasa di ulur-ulur jawaban. Walaupun sebenarnya proses yang sedang kami lakukan adalah sedang menjawab dan menanggapi tuduhan mereka pada si HAM yang mereka tuduhkan sebagai penghancur generasi Aceh. Kami sadar, menanggapi secara langsung bukan menyelesaikan masalah pada momentum ini. Namun alhamdulillah beberapa dari para peserta mulai memahami arah pertanyaan kami dan hubungannya dengan pernyataan atau tuduhan yang mereka lontarkan secara berjamaah.

Memahami HAM adalah memahami esensi diri yang telah di Anugerahkan oleh sang Pencipta. Nilai universal Kebebasan merupakan HAK yang harus di dapatkan dalam Hak Hidup. Hidup bukan untuk di penjara, baik itu secara fisik maupun pemikiran–sesiapa saja yang melakukan itu ia telah melakukan pelanggaran HAM.

Nilai Kesamaan juga bagian besar dari hak hidup seorang anak manusia, siapa pun dia. Siapa pun kita, semestinya kita diperlakukan sama dengan siapa pun–terlebih lagi perlakukan penguasa kepada rakyatnya. Kesamaan adalah dasar yang harus kita miliki dan perlakuan yang seharusnya kita dapatkan sesegera mungkin, tak terkecuali agama.

Nilai universal yang terakhir adalah Solidaritas, nilai yang terakhir ini merupakan nilai yang membingkai dua nilai universal sebelumnya. Nilai universal kebebasan terikat kuat dengan nilai solidaritas yang harus kita bangun secara moral. Begitu pula dengan nilai kesamaan, nilai ini dikontrol dengan moral solidaritas.

Pada nilai terakhir inilah yang menjadi titik paham yang terkaburkan dalam memahami HAM. Seakan HAM menjadi sumber nilai yang membebaskan, menyamakan semua hal tanpa tanpa alat ukur. Di sinilah letak persoalannya, ketika nilai solidaritas yang ada mulai memudar dan menghilang dari jangkauan komunitas anak negeri, maka kala itulah kebebasan dan kesamaan menjadi hantu menakutkan–seperti yang dipaparkan para ustaz di atas. (NH)

8 Comments

  1. rasyidin

    Bung Noviandy…
    Tulisan ini belum selesai, bung Noviandy salah seorang pegiat HAM…
    Menurut saya, satire seperti ini belum mengena para ANTI HAM… terbukti dari para ustazd yg menanggapi nya…

    • admin

      Alhamdulillah sudah selesai Mr. Rasyidin. Bapak sangat teliti membaca tulisan saya, awalnya memang tidak saya selesaikan secara utuh. Dengan harapan pembaca dapat memahaminya dengan satire yang ada. tapi saran bapak menggugah saya untuk menambah argumen saya. trims pak atas sarannya

  2. 2012017119

    Assalamualaikum.. Tulisannya bagus pak.. kalau kita berbicara mengenai HAM saya melihat sekarang ini HAM sudah tidak mendapat perhatian. Nyatanya sekarang ini banyak hukum – hukum yang tidak adil. Tidak jauh-jauh,dalam kehidupan kita sehari-hari, dimana orang kaya jika melakukan penyimpangan tidak diberatkan hukumannya, sedangkan orang-orang kecil diberi sanksi yang berat. Apakah ini adil?
    HAM hak asasi manusia yang sudah melekat sejak manusia itu lahir. kita semua mempunyai hak dan kewajiban menjalankan kehidupan selama tidak melanggar norma. Hak asasi inilah yang seharusnya dihormati dan dilindungi oleh negara. Namun pada saat sekarang HAM ternyata banyak disalahgunakan dan HAM selalu dianggap sebagai biang keladi.

  3. Nurazizah

    Luar biasa tulisan bapak, tapi saya masih bngung apa sebenarnya fungsi HAM itu bagi kita??
    Dri kepanjangan.a HAM (hak Azasi manusia), seharusnya dengan adanya HAM kita sebagai warga negara lebih terjaga bukan menjdi seperti yg bapak jelaskan diatas

  4. 2012017119

    Sekarang ini apa-apa dikaitkan dengan hukum, sehingga banyak anak-anak yang melawan orang tua, murid melawan gurunya, karena sekarang tidak lagi bisa mendidik secara keras,hal ini membuat hilangnya moral serta sopan santun generasi penerus bangsa ini, meskipun engga semua orang yang menyalahgunakan HAM tapi ini bisa berakibat besar bagi bangsa.

    Kalau saya lihat juga, HAM itu ada sedikit bertentangan dengan agama, dimana dalam HAM kita tidak boleh mendidik secara keras, sedangkan dalam islam mengajarkan keras terhadap anak yang memang tidak bisa diatur dan diberi nasihat. kalau semua anak-anak indonesia sudah seperti itu,bagaimana nasib bangsa ini dimasa yang akan datang?

  5. Ayu Imelda

    Assalamualaikum.. Tulisannya bagus pak.. kalau kita berbicara mengenai HAM saya melihat sekarang ini HAM sudah tidak mendapat perhatian. Nyatanya sekarang ini banyak hukum – hukum yang tidak adil. Tidak jauh-jauh,dalam kehidupan kita sehari-hari, dimana orang kaya jika melakukan penyimpangan tidak diberatkan hukumannya, sedangkan orang-orang kecil diberi sanksi yang berat. Apakah ini adil?
    HAM hak asasi manusia yang sudah melekat sejak manusia itu lahir. kita semua mempunyai hak dan kewajiban menjalankan kehidupan selama tidak melanggar norma. Hak asasi inilah yang seharusnya dihormati dan dilindungi oleh negara. Namun pada saat sekarang HAM ternyata banyak disalahgunakan dan HAM selalu dianggap sebagai biang keladi.

  6. Ayu Imelda

    Sekarang ini apa-apa dikaitkan dengan hukum, sehingga banyak anak-anak yang melawan orang tua, murid melawan gurunya, karena sekarang tidak lagi bisa mendidik secara keras,hal ini membuat hilangnya moral serta sopan santun generasi penerus bangsa ini, meskipun engga semua orang yang menyalahgunakan HAM tapi ini bisa berakibat besar bagi bangsa.

    Kalau saya lihat juga, HAM itu ada sedikit bertentangan dengan agama, dimana dalam HAM kita tidak boleh mendidik secara keras, sedangkan dalam islam mengajarkan keras terhadap anak yang memang tidak bisa diatur dan diberi nasihat. kalau semua anak-anak indonesia sudah seperti itu,bagaimana nasib bangsa ini dimas

  7. Sri Nayanti

    Assalamu’alaikum wr.wb. setelah membaca tulisan bpk “HAM si biang keladi”, pertanyaan yg muncul dlm kepala sy adalah jika nilai solidaritas yg smkin melemah menjadi penyebab image HAM mnjd negatif, lalu bgaimna dgn 2 nilai lg yg diajarkan ham? Tdk bnyk yg tau persis nilai2 apa saja yg terkandug dlm ham, tetapi ramai yg menyebut2 ham untk membela diri. HAM dipakai dseluruh dunia, trmasuk indonesia. Tapi, dmna peran ham saat org miskin dhukum berat hnya krna melakukan hal sepele, sdgkan org2 “beruang” dmenangkan dlm peradilan? Dmna peran ham, saat seorg ank menuntut ibu kandungnya milyaran rupiah hnya krna hutang jutaan saja? Bukankah hnya merubah tatanan sifat dan perilaku manusia saja? Ketika hendak membela ham mnggunakan nilai solidaritas pun, org akan bersikeras mengandalkan nilai kebebasan dan prsamaan dri ham tsb. Mengingat hal ini, pndangan sy trhadap ham smakin buruk saja. Wlaupun stlah membaca tulisan bpk.. mungkin sy masih salah perspektif dlm memahami ham, atau bisa jadi pendapat sy trhadap ham benar bahwa ham yg berlaku dizaman modern ini tdk bisa memberikan perannya trhadap kalangan org2 miskin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.