Hegemoni Budaya Poligami

Bro… ikut pelatihan yuk? Tanya Regar di ujung sambungan telpon tadi pagi. Dalam ingatanku Siregar ini sangat menyukai pelatihan peningkatan kapasitas seperti; menulis, meneliti, publikasi ilmiah dan lain sebagainya yang sejenis. Ya, aku ikut, menjawab pertanyaannya lewat telpon. Dimana bro..? berapa hari, berapa costnya? 2 hari, di Bogor bro… tapi biayanya agak mahal. 1,5 juta, gimana ikut? Tanya balik Regar mantab. Kalo sibro Regar ikut, aku ikut jugalah. Tapi biayanya si bro tanggung dululah, ntar awal bulan aku ganti. Ntar keuntungan kita, kalo udah bisa nulis dijurnal terakreditasi dan terindeks, job kita jauh lebih banyak dari uang itu. Tunggu dulu bro, potong regar; ini bukan pelatihan menulis atau penelitian atau sejenisnya? Ini pelatihan Daurah Pra-Poligami bro. Regar..!!! yang benar aja kalo ngajak pelatihan, daurah pra poligami segala. Emang kau mau poligami? (ini merupakan dialog imaginer dengan salah seorang sahabat karib saya ditengah gelap gulita ketika PLN memutuskan arus listriknya)

Saya secara pribadi dan beberapa teman-teman turut terhentak dengan brosur online yang menjadi bahan sharing dan tertawaan teman di berbagai media sosial. Bagi saya bukan soal brosur ini menjadi bahan sharing dan tertawaan, ini merupakan fenomena yang sedang menjelaskan eksistensi sebuah gerakan. Ada banyak gerakan masyarakat di negera demokrasi seperti Indonesia ini. Mulai di kelompok bejalar, skill, gaya hidup, pengajian, diskusi, traveling, dan lain sebagainya, hingga kelompok poligami. Namun akhir-akhir ini ditengah berbagai kemelut situasi politik dan menguatnya gerakan Islam populis kata teman saya Regar itu, gerakan poligami ini pun semakin menguatkan posisinya.

Menguatnya gerakan poligami ini tidak hanya ditularkan pada kelompok agamawan, umur dan tingkat keuangan masyarakat tertentu saja. Brosur ini menjelaskan, poligami dan memahami ajaran ilahi harus melalui proses pengkaderan. Tentunya proses pengkaderan ini akan membangun jati diri dan penguatan pemahaman bagi yang mengikutinya. Mungkin saya meyebutnya dengan evolusi, gerakan ini terus berevolusi dengan berbagai media. Hasil wawancara singkat saya dengan pelaku poligami, pemahaman poligami dikalangan umat Islam semakin hari hanya akan menjadi situs sejarah yang selalu di topang oleh barat. Saya tidak ingin berdebat dalam antara boleh dan tidak boleh poligami. Jika saya tanyakan pertanyaan ini, saya fikir 98% perempuan tidak setuju dipoligami, namun mereka tidak dapat berdalih jika dikaitkan dengan perintah Ilahiyah.

Jika kaitkan dengan mobiltas sosial dan mobilitas budaya, gerakan kelompok pro-poligami ini harus memiliki agenda yang jelas dan terarah dalam menjawab berbagai ketakutan-ketakutan yang selama ini dianggap tidak nyambung dengan poligami itu sendiri. Menurut Kuntowijoyo, umat harus memiliki dua sub agenda besar; yaitu evolusi yang terarah dan perbaikan citra umat. Gagasan Kunto ini tidak ada hubungan sama sekali dengan poligami, namun penulis mencoba meminjam dan mengalisis fenomena poligami ini dengan gagasan Kunto, dan hal ini tentunya menjadi tanggungjawab penulis sepenuhnya.

Pertama, Evolusi Terarah. Diakui atau tidak perubahan sosial di Indonesia dimulai dengan dengan gerakan yang digagas oleh kelas menengah; Serikan Islam (SI), Muhammadiyah. Kelas menengah mampu memobilasi bangsa ini pasca kemerdekaan. Ummat dibentuk untuk dapat survive, bahkan mampu berada digaris depan—walaupun berjalan tanpa rencana. Pada gelombang selanjutnya, evolusi sosial keummatan ini dikonstruk melalui lembaga-lembaga pendidikan dan keormasan. Walaupun kemudian SI, Muhammadiyah, dan ICMI sendiri mengalami penurunan dalam kepeloporannya. (Kuntowijoyo) Bagi saya secara pribadi, gerakan poligami adalah genuine gerakan ilahiyah. Namun keilahiyahan ini dalam keniscayaannya mampu menjawab dan membantah fenomenan sosial yang semakin hari terus diciptakan, baik dalam ruang konsumeris maupun sosial sosial keagamaan anak negeri. Konstruksi ini harus dijawab seperti teman-teman SI dan Muhammadiyah memobilisasi ummat pada masanya—tidak hanya bertahan dan meng-counter issue namun juga terus melakukan terobosan pada ranah yang lebih mulia dan bermartabat. Sahabat saya dalam sebuah diskusi pernah berujar; Bukankah yang diinginkan manusia dan cita-cita Hak Asasi Manusia (HAM) itu adalah kebebasan? Jika perempuan menginginkan kebebasan yang sesungnguhnya, sebenarnya poligamilah yang akan menjawab banyak persoalan HAM ini. Poligami harus mampu membangun pemahaman dan menghegemonikan ruang ini, tidak hanya pada perempuan namun juga pada laki-laki. Keleluasaan perempuan dalam menimba ilmu, meningkatkan kapasitas, mengembangkan inltelektual, bahkan menjelitkan pendapatan dalam membangun keluarga yang berkualitas.

Saya melihat gerakan kelompok poligami ini sudah berevolusi dari masa ke masa. Pada titik ini mereka telah memasuki gelombang kedua dan mulai menampakkan diri kepermukaan. Kemunculan kelompok ini bukan tanpa alasan—bentuk kontekstualnya menjelaskan bahwasanya selama ini kami itu ada dan tidak takut hegemoni monogami yang terus mensyiarkan diri melalui berbagai media. Kelompok ini juga sedang menjelaskan kehadapan kita semua bahwa pesan Ilahiyah ini adalah nyata dan tidak melanggar paradigma pamahaman dunia, tentunya dengan berbagai bukti yang mereka sajikan.

Kedua, Perbaikan Citra Ummat. Ini merupakan catatan penting kedua yang harus segera dilaknakan. Jika kita berkaca pada peran umat Islam untuk negeri ini, tentunya jasa umat Islam tak bisa dipisahkan begitu saja dalam pendirian negeri ini. Namun hari ini kenyataannya berkata lain, hingga embrio perpecahan pun di sulut oleh umat Islam. Pada akhirnya umat Islam pun terus berperang dengan umat Islam lainnya—aling-aling memperbaiki citra, bahkan weber menyebut Islam sebagai “warior relegion”. Pertanyaannya; apakah kelompok pro-poligami ini mampu membangun citra baru Islam dikalangan umat Islam dan masyarakat pada umumnya? Ini bukan hal sulit bagi kelompok ini, anggapan-sindiran, bahkan makian sekalipun tidak pernah menyurutkan langkah dalam menerapkan pesan Ilahiyah ini. Proses pengkaderan menjadi masukan utama yang harus selalu diperbaharui. Persoalan gagal tidaknya sebuah proses merupakan takdir ilahi dimana manusia hanya menjalan niat dan perintah mulia. Poligami juga tidak selalu berjalan sesuai kehendak, sama halnya juga dengan monogami. Plus-minus poligami adalah kedewasaan seseorang dalam menyahutinya menjadi hidup yang lebih baik dalam pesan ilahiyah tersebut.

Saya yakin pelatihan sejenis ini akan mulai menjamur di kota kita, sebagaimana menjamurnya gerakan penggunaan cadar atau purdah pada perempuan saat ini. Siapa sangka perempuan yang menggunakan cadar/purdah dan yang laki-laki mengenakan celana cingkrang semakin hari semakin banyak jumlah penggunanya. Mungkin dulu kita mencibirnya dengan berbagai sindiran, bahkan umpatan langsung—eh ujung-ujung anak kita atau saudara kita sendiri yang menggunakannya. Gejala munculnya kepermukaan gerakan poligami juga akan seperti ini. Tunggu saja saatnya gerakan poligami akan meng-Hegemoni kota kita.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.