Ketika Foucault pun tak mau Menghukum

Dalam pelatihan Training of Trainer Outbond yang pernah saya ikuti puncak Bogor tahun 2011, ada hal yang manarik untuk saya kemukakan di blog ini. Bermula dengan perkanalan saya dengan seorang peserta dari Bali—kami bercerita banyak selama proses training berlangsung. Sesuatu yang menarik dari cerita kami adalah Putra dari Bali ini bekerja untuk profesinya karena outbond merupakan hukuman yang pernah diberikan kepadanya. Sebut saja namanya putra (red) dalam bahasa bali tentunya ia di panggil dengan ejaan putree. Pengakuan Putra, ia merupakan anak yang bandel dalam masa remajanya—ia sadar dengan kebandelan yang saban hari terus ia praktikkan. Kebandelannya ini menyita banyak perhatian, mulai dari orang tua, kepala desa, hingga tingkat polsek sekalipun. Banyak upaya yang dilakukan orang tua, dan masyarakat yang berada dilingkungannya.

Hingga suatu hari Putra di Culik oleh orang yang tak dikenal ungkapnya, (kalau orang yang dikenal, tentunya bukan diculik namanya—red). Ia dibawa ditempat yang jauh, yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya, keyakinannya menyatakan penculik itu membawanya keluar Bali. Setelah ia terjaga dari tidurnya ia sudah berada disuatu tempat bersama sepuluh rekan yang belum ia kenal sebelumnya. Kondisinya dengan tangan, kaki terikat, mulut yang disumpal dengan kain. Para penculik hanya berdua, menurunkan mereka dengan kasar ke sebuah gubuk ditengah hutan belantara. Masih pengakuan Putra, malam itu kami semua menangis mengingat diri dan orang tua yang selama ini sangat menyangi kami, dan tak berbanding dengan kelakuan kami selama ini. Dua malam kami makan makanan ala kadar—yang jauh berbeda dengan makanan yang pernah disediakan orang tua dirumah. Pada malam kedua, 8 dari kami berhasil melarikan diri—2 orang lainya pun berhasil lepas dari sekapan para penculik.

Dari sinilah kami mulai mencari jalan pulang dan bertahan hidup. Ada banyak cerita yang dikisahkan Putra dalam hutan belantara itu. Kami saling melindungi, saling mengingatkan, bahkan bersusah-susah, dan berbahagia bersama, kenang Putra dengan tetesan air disudut matanya. Kami terus mencari jalan pulang dengan menggunakan sedikit keahlian dari masing-masing kami, baik dalam menentukan arah pulang, mencari makanan, dan melindungi tubuh dari serangan penyakit. Walau akhirnya kami berhasil pulang, berjumpa dengan orang tua kami hingga hari ini. Walau pada akhirnya kami tahu, ini adalah outbond yang dirancang untuk anak-anak bandel seperti kami dalam menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Dalam pandangan saya cerita di atas menggambarkan pemikiran Foucault dalam bukunya Discipline and Punish; The birth of the Prison. Bagi saya secara pribadi Michel Foucault adalah sosok yang unik, ia mampu berfikir di luar kotak-out of the box. Gaya dekonstruksi yang dikembangnya menyita waktu para pembaca untuk memastikan setiap bacaannya benar dan mencoba bertahan dengan berbagai konstruksi pembaca yang telah ada sebelumnya. Kata kawan saya ‘ngeri-ngeri sedap membaca buku Foucault’ tapi itulah Foucault yang banyak dikenang oleh para pembacanya.

Jika Foucault masih hidup mungkin ia akan bertanya; Untuk apa cambukan itu? Bukankah cambukan hanya menghukum fisik si terhukum? Mengapa harus ada penjara? Bukankah penjara itu juga hanya akan memenjara fisik saja? Ketika seseorang melakukan kejahatan secara fisik, apakah kita harus menyelesaikan persoalan fisik belaka? Siapakah yang memerintah fisik itu untuk melakukan kejahatan? Pertanyaan selanjutnya, apakah hukuman fisik akan merubah kejahatan dan kelakuan si terhukum?

Siksaan adalah arena politis untuk tubuh yang secara nyata ditampilkan dalam prosedur hukuman publik yang sadis maupun dalam penyiksaan untuk menghasilkan pengakuan dari tertuduh. Foucault ingin menelanjangi mekanisme kuasa yang menyentuh tubuh secara tak beradab dan kasar menjadi model strategi kuasa yang ambigu (tidak mencapai sasaran seperti yang dimaksudkan) atau kurang efektif (dilihat dari sudut ekonomi kekuasaan).

Foucault menerjemahkan penyiksaan sebagai hukuman badan sampai suatu tingkat yang kurang lebih mengerikan. Dia juga menambahkan bahwa siksaan merupakan fenomena yang tidak dapat dijelaskan, saat itukah manusia memkonstruksi kekuasaan sesuatu yang liar dan kejam. Menurut Foucault, sekalipun siksaan merupakan fenomena yang barangkali tidak dapat dijelaskan, tetapi siksaan bukanlah sesuatu yang tidak teratur atau primitif. Menurutnya, siksaan merupakan teknik penanaman (investment) seluruh praktek kuasa. Siksaan ini bukan ekspresi kegusaran dari tidak adanya hukum. Siksaan sebagai hukuman badan diatur dan harus memenuhi beberapa kriteria (Foucault, Terj, 1997):

  1. Siksaan harus menghasilkan tingkat rasa sakit tertentu yang dapat diukur dengan tepat atau setidaknya dapat dihitung, diperbandingkan, dan dapat disusun dalam tingkatan-tingkatan hierarki.
  2. Hukuman mati yang didahului dengan upacara penyiksaan merupakan siksaan pada tingkat yang paling puncak. Sebaliknya, hukuman pemenggalan kepala yang dilakukan hanya dalam waktu sekejap dipandang sebagai siksaan yang paling rendah tingkatnya, karena seluruh rasa sakit direduksi dalam suatu tindakan yang dibuat dalam waktu sekejap.
  3. Siksaan yang dilakukan sampai orang hampir mati merupakan seni memelihara rasa sakit di dalam hidup. Siksaan semacam ini sama halnya dengan membagi hidup ke dalam beribu-ribu kematian yakni dengan memberikan rasa sakit pada tubuh sebelum korban mati.

Tiga kriteria diatas merupakan seni menghasilkan sejumlah rasa sakit yang diatur penguasa berdasarkan jenis kejahatan. Siksaan membangun pemahaman akibat yang berupa rasa sakit pada badan terhukum (kerasnya, lamanya, dan banyaknya) dengan berat ringannya kejahatan yang dibuatnya.

Kriteria ini menurut foucault tidak memperhatihan sebab kejahatan yang ditimbul—tidak semua kriteria di atas dapat menjawab persoalan ditengah masyarakat. Ini merpakan penjelasan bahwa siksaan harus memenuhi dua tuntutan besar; Pertama, siksaan harus memberika tanda pada korbannya secara sadis dan keji. Kedua, siksaan harus menunjukkan kuasa dari menghukum kepada publik. (Foucault, Terj, 1997) Penerjemahan terhadap dua tuntutan ini adalah siksaan harus mengerikan dan dapat dilihat oleh banyak orang. Erangan, teriakan yang dilaksanakan pada korban adalah bentuk keadilan penguasa yang sedang menampilkan kekuatannya. Selayaknya hukuman diberikan efek hitung dari kemungkinan mengulang kejahatan yang dilakukan. Bukankah seharusnya dipahami bahwa kejahatan telah memasukkan ketidakteraturan kedalam tubuh sosial, maka pengulangan kejahatan harus segera di cegah.

Namun menurut Foucault pengurangan kerasnya hukuman selama dua abad telah biasa ditangkap sebagai gejala bahwa hukuman tidak lagi kejam, tidak lagi menyakitkan, dan lebih memperhatikan kemanusiaan. Pandangan Foucault, yang terjadi di situ sebenarnya hanya perubahan sasaran. Bila hukuman tidak lagi menyentuh tubuh, lalu apa yang disentuh? Menurut Foucault, jawabannya amat jelas, yakni ‘jiwa’. (Foucault, terj, 1997)

Hukuman seharusnya didesign mampu menyentuh kedalaman hati, pemikiran, kehendak, dan kecenderungan. Hukuman harus mampu dikaitkan dengan pengenalan akan masa lampau penjahat, kejahatannya, dan apa yang dapat diharapkan dari dia selaku anak bangsa di masa mendatang. Penjahat selayaknya dihukum dengan sistem hukuman baru, yakni hukuman internal yang disesuaikan dengan perkembangan individu.

Bukankah Hukuman dimaksudkan untuk mampu mengawasi individu, menetralkan bahayanya dan mengubah kecenderungan perbuatan jahatnya. Melalui pengetahuan tentang individu tersebut, mekanisme hukuman yang sah dilengkapi dengan pembenaran yang berdasar, bukan hanya pada kejahatan, tetapi juga pada individu; bukan hanya pada apa yang ia perbuat, tetapi pada individu itu sendiri. Dengan begitu mengadili merupakan penegakan kebenaran kejahatan. Foucault menganjurkan agar analisis atas penghukuman dibersihkan dari anggapan umum bahwa hukuman berfungsi untuk mengurangi kejahatan. Hukuman harus ditempatkan bukan hanya sebagai mekanisme negatif yang menjadikannya mampu menekan, menghalangi, mencegah dan menghilangkan kejahatan, tetapi harus dikaitkan juga dengan serangkaian mekanisme pelatihan, pengontrolan, yang membawa akibat positif dan berguna.

Untuk tujuan yang mulia ini, dikembangkan teknik pendisiplinan. Sasaran teknik ini ialah kepatuhan. Disiplin itu mengoreksi dan mendidik. Agar teknik pendisiplinan efektif, tubuh menjadi obyek utama untuk diatur. Mengapa? Karena semua orang berkeinginan menghindari rasa sakit. Maka, bisa berjalannya sistem pembelajaran yang mendasarkan pada hukuman-imbalan mengandalkan kepatuhan tubuh. Kekerasan atau hukuman fisik untuk mendapat kepatuhan tubuh merupakan teknik pendisiplinan dan pedagogi  paling kasar dan primitif. (KBBI) Dari perspektif hubungan kekuasaan, tindakan melalui kekerasan fisik menunjukkan kekuasaan tidak efektif. Hukuman fisik atas kesalahan atau pelanggaran menjadi sama jahatnya, bahkan lebih jahat dari pelanggaran itu sendiri. Padahal, kekuasaan yang efektif justru kian tidak membutuhkan kehadiran fisik. Aktualitas pelaksanaannya kian tidak diperlukan, tetapi efeknya dirasakan. Maka, dikembangkanlah sistem panopticon (Panopticism). Dengan panopticon, pengawasan bisa menyeluruh. Pendisiplinan terlaksana lebih mudah. (Foucault, Terj, 1997)

Akhirnya cara yang dipilih untuk mencapai pengontrolan adalah suatu mekanisme penaklukan tetap (konstan) yang menghasilkan relasi patuh berguna, dan mekanisme penaklukan seperti inilah yang dinamakan disiplin. Disiplin merupakan mekanisme kontrol yang teliti atas tubuh. Melalui disiplin, tubuh dilatih hingga menjadi tubuh yang terampil. Namun juga terus-menerus diuji dan dikoreksi sehingga ketrampilan, kecekatan dan kesiap-sediaan ini akhirnya menjadi mekanisme yang dengan begitu saja bekerja di dalam tubuh itu sendiri. Disiplin sekaligus meningkatkan ketrampilan, kekuatan dan daya guna tubuh, tetapi juga menguasai dan menempatkan tubuh ke dalam relasi tunduk dan berguna.

Tidak hanya sampai disini Foucault juga menawarkan metode-metode disiplin dan sasaran pendiplinan. Dekonstruksi ala kritis terhadap pendiplinan Foucault bukan tanpa alasan merusak begitu saja. Namun, hal tersebut tidak mungkin kami bahas secara mendetil pada blog ini.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.