Mitos Bergerak Menuju Status Quo

Dalam menempuh pendidikan di Kota Yogyakarta, saya berkesempatan menjadi salah seorang relawan ketika terjadi bencana alam Gunung Merapi. Saya pikir ini kesempatan untuk saling meringankan beban masyarakat yang ada di seputaran Klaten saat itu, mengingat peran masyarakat Indonesia ketika terjadinya tsunami di Aceh itu sangat besar. Ya, mungkin peran saya sangat kecil dibanding dengan hal itu semua.

Ada cerita menarik disana. Saya melihat sebuah pohon besar di tengah kampung, pohon ini seperti memiliki perhatian berbeda dimata saya. Pohon bisa dikatakan membelah jalan, bahkan ia sering diselamatkan, baik untuk pembangunan jalan, fasilitas masyarakat, atau lain sebagainya. Hal ini menyita perhatian saya, saya mulai bertanya, dan terus bertanya mengapa pohon ini mendapatkan perlakukan khusus? Mungkin ini adalah inti pertanyaan saya pada tokoh, relawan, atau masyarakat tempatan disana. Jawaban demi jawaban mulai saya kumpulkan, walaupun saya tidak bertanya dengan pertanyaan serius dan khusus.

Ada hal-hal yang menarik dari jawaban yang saya kumpulkan itu.  Pohon besar itu adalah penolong; pohon besar itu akan menjaga kampung kita; jika pohon besar itu dipotong maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bahkan ada yang mengungkapkan jika pohon tersebut itu ditebang, maka kita akan di makan gundoruwo. Saya paham, ini merupakan khazanah jawa yang masih sangat kental dengan kehidupan masyarakat di sana. Tidak perlu saya bantah atau berdebat dengan landasan agama sekalipun.

Dalam kacamata masyarakat secara umum, jawaban seperti di atas tentu tanggapi dengan kata ‘tidak masuk akal’, ‘tidak rasionalis’, dan lain sebagainya. Ini merupakan sesuatu yang wajar karena nalar fikir kita tidak mampu mengkonstruknya lebih jauh. Mungkin saja dengan jawaban seperti diatas, ada banyak orang yang mengkonstruknya dengan analogi pencegahan banjir, penghijauan dan lain-lain. Sehingga mitos-mitos seperti ini akan terus diproduksi untuk melahirkan dan mempertahankan budaya dan peradaban anak bangsa.

Mitos dengan bangunan seperti diatas juga banyak diproduksi pemerintahan di era klasik, baik itu kerajaan hingga presiden sekalipun. Tidak lain untuk menguatkan status quo. Tidak hanya di jawa, kalimantan, Aceh, Papua, juga banyak terdapat mitos dengan konstruksi seperti itu. Namun tak jarang juga kita dapati konstruksi mitos tanpa bangunan dan tidak ada analogi yang mampu disematkan disana. Pada titik inilah nalar pikir manusia dilemahkan bahkan diluluh-lantakkan tidak lain juga untuk status quo.

Mitos juga memiliki selikuhan erat dengan bahasa. (Ahimsa. Puta) Mitos berada dalam dua waktu sebaligus, yaitu langue (waktu yang bisa berbalik) dan parole(perangkap waktu). Pola-pola khas dari mitos (“konon dahulu kala”, “Alkisah di zaman dahulu……”, dsb) inilah yang menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu, sekaligus menjelaskan apa yang terjadi saat ini dan yang akan datang. Pola-pola tersebut dapat “explains the present and the past, as well as the future” (Lévi-Strauss). Disinilah letak perbedaan yang mencolok dari sifat mitos yang historis dan ahistoris dengan bahasa walaupun masih mengandung sifat-sifat kebahasaannya.

Ada banyak konstruksi mitos (cerita) yang dibangun dengan berbagai logika—cerita itu tidak semuanya memiliki relevasi dengan alam nyata. Namun banyak cerita dapat dijadikan pelajaran dan dapat digunakan membaca realitas kekinian, baik yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Mitos bagai mengkonstruksi kehidupan, ada yang masuk akal, ada pula yang setengah masuk akal, ada yang tidak masuk akal sama sekali. Bukankah kehidupan kita juga begitu. Pada level tertentu kekuatan kualitas dan kuantitas mitos dapat dijadikan alat ukur sebuah peradaban—tak jarang mitoslah yang menjaga peradaban dalam ruang status quo.

Siapa sangka mitos dapat mengkonstruk beras dan padi sebagai sebuah kesejahteraan. Siapa sangka pula keberadaan seorang yang berilmu adalah pelita untuk kegelapan. Tanpa bangunan sebuah mitos semua itu akan hilang tenggelam dimakan waktu. Namun harus menjadi cacatan kita semua tidak semua konstruksi dapat dijadikan bangunan sebuah peradaban yang beradap, entah lagi dalam membangun keyakinan dalam beragama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.