Rentang pemikiran Marxisme & Agama sebagai Candu Rakyat

Tulisan ini disadur dari blog indoprogress.com

Tony Firman

PENGGALAN kalimat Marx yang paling terkenal dan sekaligus menjadi slogan atas dirinya yaitu ‘agama adalah candu rakyat’, mungkin saja telah menjadi saripati dari apa yang ditemukannya mengenai Komunisme. Kemudian, apakah ada celah akan suatu pemahaman dan analisa yang menyatukan peran-peran agama dan marxisme dalam sejarah gerakan sosial ini?

Yang perlu diketahui mengenai ungkapan ‘agama adalah candu rakyat’, bukan pertama kalinya muncul atau khas pernyataan Marxis. Dalam berbagai konteks, pada tulisan-tulisan milik Kant, Herder, Feuerbach, Bruno, Bauer, dan juga Heinrich Heine, ungkapan yang sama dapat pembaca temukan.

Atas dasar itu, mari kita coba selami ungkapan khas Marx yang terkenal sekaligus dibenci oleh para pemeluk agama di seluruh dunia, serta pandangan Marxis tentang agama dalam berbagai ‘kacamata’ sejarah.

 

Marx

‘Kenestapaan keagamaan, pada saat yang sama merupakan ungkapan kesengsaraan nyata dan sekaligus protes melawan penderitaan nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya makhluk yang tertindas, jantungnya dunia yang tidak punya hati, karena itu ia merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Ia adalah candu rakyat.’1

Jika kita baca lebih dalam lagi dari keseluruhan kalimat Marx di atas, tampak bahwa sang penulis sebenarnya lebih bernuansa ketimbang benar-benar percaya. Dia tetap mempertimbangkan watak ganda dari agama. Dalam esainya itu –Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, ditulis tahun 1844- tampak jelas bahwa pokok pandangan Marx sebenarnya lebih mengarah ke aliran Hegelian Kiri, yang melihat agama sebagai suatu keterasingan (alineasi) hakikat manusia. Bukan condong ke aliran filsafat Pencerahan abad XVIII, yang secara sederhana menyimpulkan bahwa agama sebagai suatu persekongkolan para pendeta saja.

Bahkan ketika Marx menulis kalimat itu, ia masih berstatus sebagai murid Ludwig Feuerbach, seorang pemikir terkemuka dari Hegelian Kiri. Analisisnya mengenai agama tersebut adalah suatu analisis ‘pra-marxis’, tanpa acuan analisis kelas sama sekali. Dari analisis tersebut kemudian juga bersifat dialektis karena telah menyatakan watak ganda dan penuh pertentangan dari gejala keagamaan: pada saat tertentu menjadi pengabsah masyarakat yang sudah mapan; dan, pada saat yang lain, malah menjadi kekuatan penentang dari kemapanan itu sendiri.

Belakangan, kajian Marx yang tajam tentang agama – dalam German Ideology (1846) – sebagai suatu kenyataan sosial dan sejarah yang menyertakan suatu analisis tentang agama sebagai salah satu dari berbagai bentuk ideologi – melihat agama sebagai produk kerohanian suatu masyarakat, hasil dari gagasan-gagasan, perlambangan-perlambangan dan alam kesadaran- yang semuanya jelas dibentuk oleh produksi material dan berkaitan erat dengan hubungan-hubungan sosial yang ada dalam masyarakat.2

 

Engels

Ketimbang Marx, Friedrich Engels menampakkan minat yang lebih besar terhadap gejala keagamaan dan peran sejarahnya. Terhadap kajian Marxis, sumbangsih Engels tentang agama adalah analisis mengenai hubungan antara perlambang-perlambang keagamaan dan perjuangan kelas. Yang melampaui perdebatan-perdebatan filosofis (antara materialisme dengan idealisme), mencoba memahami dan menjelaskan ungkapan-ungkapan sosial nyata dari agama-agama.

Agama Kristen (sebagaimana yang dilihat oleh Feuerbach) tidak terus menerus tampil sebagai suatu ‘hakikat’ yang sama di setiap masa (timeless), tetapi merupakan suatu bentuk kebudayaan yang mengalami transformasi di berbagai periode sejarah yang berbeda. Pertama kali adalah agamanya para budak belian, kemudian menjadi ideologi negara Kekaisaran Romawi, lalu dijalin ke dalam jenjang masyarakat ningrat (feodal) dan, terakhir, diserap ke dalam masyarakat borjuis. Tentu saja sepanjang rentang sejarah ini terjadi perselisihan di antara berbagai kekuatan lapisan sosial pemeluk keagamaan tersebut: antara teologi yang dipahami kaum ningrat, Protestanisme borjuis, dan berbagai ajaran bid’ah (heresy) orang kampung.

Analisis Engels, sesekali memang terperosok juga ke arah penafsiran utilitarian, yakni penafsiran instrumental atas gerakan-gerakan keagamaan:

‘… tiap kelas yang berbeda menggunakan agama yang tepat bagi mereka masing-masing … dan hal itu membuat perbedaan yang kecil saja apakah orang-orang itu memang percaya kepada agama yang mereka anut atau tidak.’3

Kelihatannya Engels memang tidak menemukan apa-apa selain daripada ‘ketersamaran keagamaan’ dari kepentingan-kepentingan kelas masyarakat tertentu dalam berbagai bentuk agama. Tetapi berkat perjuangan kelasnya, ia menyatakan bahwa pertentangan antara materialisme dan agama tidak selamanya mutlak. Seperti yang dilihat di Inggris pada abad XVIII, materialisme pada orang yang namanya Hobbes memang mati-matian mempertahankan kekuasaan mutlak kerajaan, sementara aliran-aliran Protestan justru menggunakan agama sebagai panji-panji revolusioner mereka dalam menentang keluarga kerajaan dinasti Stuart.

Selanjutnya, Engels menggambarkan suatu analisis menarik yang membedakan agama-agama yang dianut berdasarkan susunan kelas masyarakat di masa tertentu dan dalam rentang sejarah. Alhasil, selama masa Reformasi, pada satu sisi ada lembaga kependetaan kelas atas, yakni kumpulan ningrat puncak dari seluruh jenjang Gereja, dan pada sisi lain terdapat lembaga kependetaan kelas bawah yang menjadi pemasok ideologi gerakan Reformasi dan gerakan-gerakan petani revolusioner.

 

Gramsci

Gramsci satu-satunya yang memperlihatkan minat terbesar dalam soal-soal agama. Dia orang Marxis pertama yang mencoba memahami peran mutakhir Gereja Katolik dan bobot budaya keagamaan di kalangan rakyat jelata. Uraian-urainnya tertuang dalam buku Prison Notebook meskipun terpenggal-penggal, tidak berurutan dan penuh kiasan, tetapi juga sangat berwawasan. Kecaman yang tajam dan bernada ironis terhadap bentuk-bentuk konservatisme agama, khususnya aliran Jesuit dan ajaran Katolik yang sepenuh hati memang tidak disukainya, toh tidak menghalangi untuk melihat juga adanya matra utopia dari ajaran-ajaran keagamaan.

‘Agama adalah utopia paling raksasa, “metafisika” terbesar, yang pernah dikenal oleh sejarah, karena agama adalah upaya terbesar yang pernah ada yang merukunkan, dalam bentuk mitologis, pertentangan-pertentangan nyata dari sejarah kehidupan. Agama menegaskan bahwa, dalam kenyataan, makhluk manusia “pada dasarnya” adalah sama … karena demikianlah ia diciptakan Tuhan, sebagai anak Tuhan, karena itu merupakan saudara bagi orang lain, sama dan sederajat dengan orang lain, dan merdeka di antara dan sebagai orang lain …; tetapi agama jugalah yang menegaskan bahwa semua itu tidak wujud di dunia ini, tetapi di dunia yang lain (utopia). Oleh karena ajaran persamaan, persaudaraan, dan kebebasan itu telah meragi di antara umat manusia…. Demikianlah yang terjadi dalam setiap peristiwa mengkhalayak yang radikal dan menggemparkan, dalam satu atau lain cara, dalam bentuk-bentuk tertentu dan ideologi-ideologi yang khas, maka kebutuhan akan ajaran tersebut selalu muncul kembali.’

Dia juga menegaskan ada perbedaan-perbedaan internal dalam Gereja menurut pandangan-pandangan ideologisnya, – ada yang liberal, modernis, Jesuit, dan aliran-aliran fundamentalis dalam budaya Katolik – dan tentunya menurut kelas-kelas sosial yang berbeda-beda:

‘Setiap agama … jelas merupakan penggandaan dari ajaran-ajaran yang saling berbeda dan bahkan sering saling bertentangan: ada paham Katolik bagi para petani, ada paham Katolik bagi para borjuis kecil dan kaum buruh perkotaan, ada paham Katolik bagi kaum perempuan, dan ada paham Katolik bagi kaum cendekiawan ….’

Banyak catatan-catatan Gramsci memang berkaitan dengan peran sejarah Gereja Katolik di Italia pada masa lalu dan saat ini: ungkapan-ungkapan sosial dan politiknya melalui Aksi Katolik dan Partai Rakyat, hubungannya dengan negara dan kelas-kelas masyarakat bawah, dan sebagainya. Dia terutama tertarik pada cara kaum cendekiawan tradisional digalang dan dimanfaatkan sebagai alat hegemoni oleh Gereja:

‘Meskipun gereja berhasil mengorganisir suatu mekanisme yang amat bagus dalam memilih “secara demokratis” kaum cendekiawannya, namun mereka tetap saja dipilih sebagai pribadi dan bukan sebagai perwakilan dari kelompok-kelompok rakyat jelata.’4

Bloch

Analisis Gramsci di atas memang kaya dan memancing, tetapi tidak memperbaharui metode pendekatan terhadap agama. Ernst Bloch adalah penulis Marxis pertama yang secara radikal mengubah kerangka kerja teoritis tersebut tanpa menghapuskan sama sekali cakrawala pandangan Marxis dan revolusionernya. Dalam pandangannya yang sama dengan Gramsci tentang pembeda dua aliran ajaran agama yang secara sosial saling berlawanan: pada satu sisi adalah agama teokratisnya lembaga-lembaga gereja resmi, candu rakyat, alat yang menutup-nutupi pengabdiannya pada kekuasaan; pada sisi lain adalah ajaran agama bawah tanah, makar dan bid’ah para penganut Albigensian, Hussites, Joachim de Flare, Thomas Munzer, Franz von Baader, Wihelm Weiltling, dan Leo Tolstoy.

Bloch justru menolak untuk melihat agama secara khas sebagai suatu ‘selubung’ kepentingan kepentingan kelas. Dalam berbagai bentuk perlawanan dan protesnya, agama adalah salah satu dari banyak bentuk penting kesadaran utopia, salah satu bentuk ungkapan yang amat kaya tentang Asas Pengharapan. Bloch menentang pemujaan terhadap lembaga-lembaga keagamaan yang sudah ada dan mengembangkan tafsir-tafsir baru atas Injil – baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru – dengan menonjolkan Biblia pauperum yang mengutuk Fir’aun dan menyerukan kepada setiap dan semua orang untuk memilih: aut Caesar aut Christus (atau Kaisar atau Kristus)!.

Menerobos jauh dari hanya sekedar “dialog”, Bloch justru memimpikan suatu persekutuan murni antara ajaran Kristen dan revolusi, seperti yang terjadi pada Perang Petani di Jerman abad XVI. Pandangan-pandangan Bloch, sampai pada tingkat tertentu juga disepakati oleh beberapa anggota Mazhab Frankfurt. Max Horkheimer mengatakan bahwa ‘agama merupakan rekaman kenangan-kenangan (Sehnsuchte), keinginan-keinginan, dan gugatan-gugatan dari berbagai generasi yang tak terhitung lagi jumlahnya.’ Erich Fromm dalam bukunya, Le Dogma du Christ (1930), menggunakan Marxisme dan psikoanalisis untuk menjelaskan hakikat-hakikat pesan kemahdian, keugaharian, kesetaraan, dan antikesewenangan dari ajaran Kristen primitif.

 

Goldmann

Karya Lucian Goldmann adalah usaha terobosan lain yang menganalisis dan memperbarui kajian Marxis terhadap agama. Meski bertolak dari suatu pemikiran yang berbeda dengan Bloch, dia juga menaruh minat dalam hal menyelamatkan nilai kemanusiaan dan moral dari tradisi agama. Bagian yang paling asli dan mengejutkan dari karyanya adalah usaha untuk membandingkan antara iman agama dan kepercayaan Marxis: bahwa keduanya memiliki persamaan menolak tegas individualisme murni (yang rasional maupun empiris), dan keduanya percaya pada nilai-nilai trans-individual – yakni Tuhan dalam ajaran agama, masyarakat manusia dalam sosialisme.

Tanpa bermaksud ‘mengkristenkan Marxisme’ dengan jalan apapun, Goldmann memperkenalkan suatu cara baru dalam melihat hubungan saling bertentangan antara iman keagamaan dan ateisme Marxis.

 

Dalam seabad terakhir..

Jika kita membaca secara teliti pikiran Marx dan Engels tentang agama, maka tak pernah keduanya melihat peran agama secara monolitik dan statis. Kondisi-kondisi dan hubungan-hubungan sosial yang berkembang dalam masyarakat dan pengalaman perjuangan kelas yang ada lebih menentukan bagaimana cara kita menilai peran agama, ketimbang memberikan sebuah penilaian yang aksiomatik. Bisa dilihat dalam seabad ini, – dengan pengecualian yang terjadi di Perancis – berbagai peristiwa seperti gerakan kaum sosialis Kristen tahun 1930-an, para pendeta kaum buruh pada tahun 1940-an, sayap kiri dari Serikat Buruh Kristen Prancis pada tahun 1950-an dan sebagainya. Berbagai peristiwa gerakan sosial untuk pembebasan ini justru mampu mengubah tanpa melepaskan kepercayaan pada peran agama. Gerakan yang justru muncul dari sektor-sektor kepengurusan, institusi sampai pemuka agama yang bersama-sama berjuang bersama rakyat yang tertindas. Ada perpaduan kata hatinya Bloch dan Goldmann ke dalam analisis tentang gejala ini. Hal yang sudah nyata terjadi di Amerika Latin, dimana teologi pembebasan lahir dan tumbuh menjadi garda terdepan gerakan revolusi.

Marxisme seperti halnya teori-teori lainnya, tidak dapat dibenarkan hanya dengan satu tafsiran tunggal semata-mata. Epistemologi telah mengajarkan kepada kita bahwa satu naskah akan selalu dibaca dalam konteks pemahaman yang khas oleh setiap pembacanya. ‘Kacamata’ itulah yang menentukan penafsiran suatu teori.

 

Penulis adalah mahasiswa ilmu komunikasi universitas Brawijaya, Malang.

 

Kepustakaan

Lowy, Michael (2013) Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme & Marxisme Kritis, Yogyakarta: INSISTPress.

Diterjemahkan dari: Michael Lowy, Marxismo e Teologia da Libertação.

 

1Karl Marx (1884) ‘Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right’ dalam Louis S. Feuer (ed.) (1969) Marx and Engels: Basic Writings on Politics and Philosophy, London: Collins/Fontana, h.304.

2Karl Marx (1846) German Ideology, London: Lawrence & Wishart, 1974.

3Friedrich Engels, ‘Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy’ dalam Feuer, op.cit., h.281.

4Antonio Gramsci (1976) Selection from the Prison Notebooks, disunting oleh Quentin Hoare dan G. Nowell Smith, London: New Left Books, h.305, 329, dan 397.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.