The Power Of Simbol…? Apakah Simbol Memiliki Kekuatan..?

Huuff… Lelah juga jika menulis itu harus dipaksa, jika tidak dipaksa juga akan jadi masalah nantinya sambung teman karipku dari kejauhan. Kesulitan pertama adalah memikirkan apa yang harus dituliskan, kesulitan kedua itu terletak pada meredaksikan judul. Ya, seperti judul di atas itu. Keliahatannya redaksi judulnya keren, tapi belum tentu isinya.

Pada suatu waktu, saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan tentang Hukum Humaniter dan Hukum Perang dalam perspektif Islam. Saat itu saya memliki perawakan yang berbeda dengan biasanya, saya memliki sedikit jambang, jenggot yang lumayan jika tidak dikatakan panjang. Awalnya jenggot panjang tersebut sangat saya butuhkan untuk kebutuhan research saya disebuah kota kecil. Pelatihan yang mendadak ini tidak memungkinkan saya untuk tampil klimis, belum lagi penelitian lapangan saya datanya belum klimaks atau menemukan titik jenuh bahasanya para peneliti.

Bisa saudara-saudara bayangkan, badan saya yang sedikit jangkung dengan ukuran 179 cm. Ditambah jenggot, kumis tipis—mungkin pertanda aktivis garis lucu kali ya… Apa yang saya rasakan dengan penampilan seperti itu? Bagi saya itu biasa saja, berbicara dengan selingan lafaz arab juga tidak membuat saya canggung sebagai muslim. Ketika saya mendapatkan sebuah kamar tidur dengan seorang teman yang juga dari derah, saat inilah saya merasa berbeda.

Ada perlakuan berbeda yang saya dapatkan dari my roommett. Seiring dengan perkembangan tekhnologi, khususnya fasilitas androit saya menjadi malas untuk menonton tivi. Apa lagi nonton berita, ntah itu chanel televisi terkeren sekalipun. Fasilitas android yang terconecting dengan internet, tidak hanya memberikan berita berdasar fakta—plus analisa dari berbagai tokoh dan pakar dapat kita lahap setiap perkembanganya. Ceritanya, saya dalam kamar hotel dengan teman, tidak pernah berinisiatif menyalakan televisi. Dua harian kami berteman, televisi dikamar saya nyaris tak pernah hidup. Apa yang terjadi kemudian sangat berbeda ketika saya mengenakan celaja Jeans dengan merk Levi’s. Teman saya langsung bertanya; ‘Abang ini sebenarnya jamaah tabligh atau salafi?’. Saya langsung respon; emang kenapa? Kok pakai Jeans, levi’s lagi? Emang nggak boleh? Alaah abang ini, saya kira abang bagian dari jamaah salafi atau sejenisnya. Saya nggak berani hidupkan televisi karena menyangka abang anti dengan tontonan televisi. Eh tahunya gak anti dengan celana Jeans. Hahahahhahahaa

Apa yang saya rasakan, bahwasanya my roommeet terjebak dalam simbolisme yang yang saya kenakan. Hal ini bukan sesuatu yang baru yang pernah saya alami. Beberapa penelitian mengharus saya menjadi orang lain dalam proses penelitian panjang—mempertahan simbol adalah mempertahan irama penelitian dalam mengumpulkan data yang akurat. Simbol sering diartikan tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu pada seseorang atau khalayak. Dalam banyak tulisan banyak menyebutkan simbol adalah jembatan antara dasar hakikat kenyataan yang tidak terbatas serta pengalaman dan penghayatan manusia yang terbatas. Pada ruang inilah keberadaan seseorang yang ingin membunyikan kenyataan yang terbatas dalam bentuk simbol yang diyakini dapat mencapai ketidakterbatasan tersebut.

Dalam istilah modern-kontemporer simbol adalah setiap unsur dari suatu sistem tanda-tanda. Dalam arti yang lain simbol sama dengan “citra” (image) dan menunjuk pada suatu tanda indrawi dari realitas supra-indrawi. Tanda-tanda indrawi pada dasarnya memunyai kecenderungan tertentu untuk menggambarkan realitas supra-indrawi. Dalam suatu komunitas tertentu tanda-tanda indrawi langsung dapat dipahami, misalnya, sebuah tongkat melambangkan wibawa tertinggi. Kalau suatu objek tidak dapat dimengerti secara langsung dan penafsiran terhadap objek itu bergantung pada proses-proses pikiran yang rumit, maka orang lebih suka berbicara secara alegoris.

Dillistone; simbol merupakan alat yang kuat dalam meluaskan penglihatan, merangsang daya imajinasi kita dan memperdalam pemahaman. Whitehead; pikran manusia berfungsi sebagai simbol, bila kompomen pengalamannya menggugah keasadaran, kepercayaan, perasaan, dan gambaran mengenai komponen-komponen lain pengalamannya. Ini masuk dalam kajian teoritis yang sedikit agak gimana gituu. Simbol menjadi sebuah kebutuhan kepada setiap orang dalam mengartikulasikan hidupnya menjadi lebih hidup.

Simbol itu akan tumbuh dan berkembang dalam teks dan konteks yang sangat beragam dan dapat saja digunakan dalam berbagai tujuan. Simbol dalam ensklopedi dibagi dalam 2 bentuk bentuk yang berbeda dikalangan relegius dan praktis. Manusia adalah mahluk yang tidak bisa dipisahkan dari sistem simbol, simbol pulalah yang membedakan manusia dengan hewan (Cassirer). Dengan lahirnya simbol-simbol dalam hidup manusia; agama, budaya, seni, dan lain sebagainya—manusia dapat mengartikulasikan hidup dan menafsirkan stimulus-stimulus yang ada.

Pertanyaannya; bagaimana jika manusia kehilangan simbol atau tidak memiliki simbol sama sekali? Pada titik inilah manusia akan kehilangan kesadaran dalam memahami kehidupan. Pengalaman hidupnya akan menjadi hampa tanpa arti. Pada sisi lain tidak alat yang mampu mengantarkannya untuk berimaginasi—bahkan hubungan sosial pada lingkungannya akan terputus. Simbol menjadi ikatan seseorang mengenal dimensi roh bathiniah dalam dirinya dalam melakukan korespondensi dengan sumber realitas tertinggi (Rahner). Pada posisi yang seperti inilah simbol menjadi peng’ada’ tanpa simbol dapat dipahami bahwasanya manusia itu tidak ada.

Hidup menjadi simbol sebuah mahluk. Ketika hidup hanya diisi dengan makan, maka hidup hanya akan menjadi simbol binatang. Orang kaya memiliki simbol yang menyatakan dirinya kaya. Ilmuan memiliki simbol yang dapat menyatakan dirinya adalah seorang ilmuan. Seorang dokter akan diakui profesinya oleh masyarakat ketika ia mampu menerapkan simbol yang ia sandang. Begitu juga dengan seorang peneliti—simbol peneliti itu melekat pada dirinya. Seorang pemimpin akan terlihat kepemimpinannya, ketika simbol kepemimpinannya mampu ia aktualkan ruang kuasanya; keadilan, kesejahteraan, kemerdekaan dan lain sebagainya

Simbol memiliki kemampuan luar biasa sebagian orang mengatakan memiliki nilai magic, mengubah keyakinan, persepsi, kebiasaan, dalam realitas kehidupan (whitehead). Kita ingat bagaimana kekuatan infadhah anak-anak di Palestina—ruang magis yang diakibatkan oleh simbol yang kelihatannya biasa-biasa saja. Simbol mampu mengungkapkan sebuah keuniversalan bukan mimpi, tapi ia adalah wahyu yang hidup (Goethe). Banyak realitas dalam kehidupan tidak mapun dimengerti dengan cara lain, namun simbol-simbol seni mampu menerjemahkan hal itu (Paul Tillich). Bahkan simbol dapat menyatakan suatu realitas suci kosmologis yang tidak dapat dinyatakan oleh manivestasi lainnya. simbol mampu menciptakan solidaritas tetap antara manusia dan yang kudus (Mircea Ealide). Kita tentunya sering melihat ritual Haji, bagi saya haji adalah simbol dari satu rangkaian keislaman seseorang—bisa kita bayangkan simbol haji itu begitu merubah banyak para pelakunya. Walaupun banyak para pelaku memanfaatkan secara negatif simbol haji tersebut.

Waw.. Jangan sekalipun kita meremehkan simbol. Mungkin bagi kita simbol yang kenakan seseorang adalah sesuatu yang tidak pantas. Namun bagi orang lain yang mengenakanya—ia telah berada dalam ruang gerak yang jauh dari capaian yang kita bayangkan. Seseorang akan terlihat lemah dengan simbolnya, pada sisi lain simbol yang kita anggap lemah sedang berproses dengan yang mengenakan menuju satu tingkatan yang lebih besar.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.